Ciamis, Mediasakti.id ,-
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Ciamis menegaskan, upaya pemberantasan tuberkulosis (TBC) di Indonesia tidak cukup hanya dengan mengobati masyarakat yang sudah dinyatakan sakit. Pemeriksaan terhadap orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC harus diperkuat untuk memutus mata rantai penularan.
Hal itu disampaikan Benjamin saat melakukan kunjungan kerja ke RSUD Ciamis dilanjut ke Pemda Ciamis, Senin (21/9/2026). Dalam kunjungannya, ia meninjau langsung kondisi pelayanan kesehatan sekaligus mendorong penguatan program pencegahan penyakit, termasuk TBC dan pemeriksaan kesehatan melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Benjamin mengatakan, Jawa Barat merupakan salah satu daerah dengan capaian penanganan TBC yang tergolong baik. Namun, kasus TBC masih menjadi persoalan karena penyakit tersebut menular melalui kontak erat.
“Kontak erat, terutama orang serumah, harus diperiksa. Kalau tidak sakit diberikan obat pencegahan, sedangkan yang sakit diobati,” ujar Benjamin.
Menurutnya, langkah tersebut harus dilakukan secara konsisten. Jika pemeriksaan kontak erat dan pengobatan pencegahan berjalan selama beberapa tahun secara berkesinambungan, jumlah kasus TBC diyakini dapat ditekan secara signifikan.
Selama ini, kata dia, perhatian lebih banyak diberikan kepada pasien yang sudah sakit. Sementara orang yang sudah tertular namun belum menunjukkan gejala masih banyak yang belum diperiksa.
“Orang berpikir, saya tidak sakit kok disuruh minum obat pencegahan. Padahal, hari ini tertular, sakitnya bisa baru beberapa bulan kemudian. Prosesnya berjalan perlahan,” katanya.
Karena itu, Benjamin mengajak masyarakat tidak mengabaikan pemeriksaan apabila memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Menurutnya, semakin cepat sumber penularan ditemukan dan ditangani, semakin besar peluang memutus rantai penyebaran penyakit.
“Kalau sumber penularannya hilang, penularan juga semakin berkurang. Kalau tidak ada TBC di Ciamis, tentu Ciamis bisa bebas TBC. Ini harus kita kerjakan bersama,” tegasnya.
Selain TBC, Benjamin juga menyoroti pentingnya pemeriksaan kesehatan masyarakat melalui program CKG. Menurutnya, CKG menjadi bagian penting dalam mendeteksi penyakit sejak dini, termasuk hipertensi, diabetes, serta gangguan fungsi ginjal.
Ia mengungkapkan, hingga September 2026, pelaksanaan CKG secara nasional telah menjangkau hampir 100 juta orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di kisaran 70 juta orang.
Benjamin menilai, deteksi dini sangat penting karena penyakit seperti hipertensi dan diabetes dapat berkembang tanpa gejala yang jelas dan kemudian menyebabkan komplikasi serius.
Ia mencontohkan kondisi pasien usia muda yang harus menjalani cuci darah. Menurutnya, kasus gagal ginjal pada usia muda menjadi peringatan bahwa penyakit penyebabnya harus dideteksi dan ditangani lebih awal.
“Yang paling banyak menyebabkan kerusakan ginjal adalah darah tinggi dan kencing manis. Kalau hipertensi dan diabetes bisa ditemukan dan diobati lebih awal, kita bisa mencegah orang sampai harus cuci darah,” jelasnya.
Benjamin menyebut, saat ini sekitar 156 ribu orang di Indonesia menjalani cuci darah. Pembiayaan layanan tersebut juga menjadi beban besar bagi negara karena harus ditanggung melalui sistem jaminan kesehatan.
“Tujuan CKG supaya umur harapan hidup orang Indonesia semakin panjang dan masyarakat tetap sehat serta produktif,” katanya.
Ia juga mendorong agar pemeriksaan kesehatan tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi semakin mendekat ke masyarakat. Salah satunya melalui pemeriksaan menggunakan alat rontgen yang dapat dibawa ke desa-desa.
Menurut Benjamin, pemerintah terus memperkuat upaya penemuan kasus TBC sekaligus pencegahannya. Ia menyebut telah mengunjungi puluhan provinsi untuk melihat langsung pelaksanaan program kesehatan.
“Kita sudah keliling 29 provinsi. Masih ada beberapa provinsi lagi. Kita ingin bekerja bersama supaya tahun depan semakin baik dan Indonesia punya harapan bebas TBC,” ujarnya.
Benjamin menegaskan, keberhasilan pemberantasan TBC bukan hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, atau Puskesmas. Peran masyarakat, pemerintah desa hingga lingkungan keluarga sangat menentukan.
Ia pun mengapresiasi peran media dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat. Menurutnya, edukasi melalui media penting agar masyarakat memahami bahwa pencegahan TBC sama pentingnya dengan pengobatan.
“Kalau masyarakat tidak tahu, mereka tidak akan mengerti. Karena itu media sangat penting untuk mengedukasi masyarakat,” pungkasnya. ( Dods ).























