Ciamis, Mediasakti.id ,-
Ratusan warga Desa Gegempalan, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, kembali menghidupkan tradisi leluhur melalui kegiatan Sedekah Pasarean di Makam Keramat Majaganda, Dusun Majaganda, Kamis (8/10/2026).
Tradisi yang telah berlangsung hampir ratusan tahun itu bukan sekadar ritual adat. Sedekah Pasarean menjadi momentum masyarakat untuk mempererat silaturahmi, memperkuat gotong royong, bersedekah sekaligus menghormati para leluhur yang memiliki kaitan dengan perjalanan sejarah Galuh.
Kepala Desa Gegempalan, Wawan Munawar, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah desa bersama masyarakat untuk mempertahankan warisan budaya agar tetap hidup dan tidak tergerus perkembangan zaman.
“Sedekah Pasarean ini untuk mempertahankan budaya leluhur yang sudah hampir ratusan tahun dilaksanakan di Desa Gegempalan. Ini juga merupakan upacara adat masyarakat dalam rangka mempersiapkan tanam raya,” ujar Wawan.
Menurutnya, Makam Keramat Majaganda memiliki nilai sejarah yang kuat. Kawasan tersebut menjadi salah satu tempat dimakamkannya para leluhur Galuh, termasuk Raden Arya Kusumadinata, yang disebut sebagai Bupati Ciamis kelima.
“Di sini ada makam Bupati Ciamis yang kelima, yaitu Raden Arya Kusumadinata. Ada juga makam putranya. Sesungguhnya masih banyak makam leluhur Galuh yang dimakamkan di wilayah Desa Gegempalan,” jelasnya.
Wawan menegaskan, Sedekah Pasarean juga memiliki pesan sosial yang penting. Tradisi tersebut menjadi sarana untuk menanamkan semangat kebersamaan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Tujuannya untuk menjalin silaturahmi dan membudayakan masyarakat agar gemar berinfak, bersedekah serta bergotong royong. Persatuan dan kesatuan warga Desa Gegempalan terlihat jelas dalam kegiatan ini,” katanya.
Ia berharap tradisi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan, tetapi terus diwariskan dari generasi ke generasi.
“Harapannya kegiatan ini tetap diistikamahkan dan terus dilaksanakan. Kalau ada kegiatan positif lainnya, bisa digelar di kawasan pemakaman ini sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa para leluhur,” tegasnya.
Tak berhenti pada Sedekah Pasarean, Pemerintah Desa Gegempalan juga mulai memperkuat kawasan makam sebagai ruang kegiatan keagamaan sekaligus pelestarian budaya.
Setiap 2 Syawal, masyarakat akan berkumpul untuk bersilaturahmi dan berdoa di kawasan makam tersebut. Sementara sejak 2026, Pemerintah Desa Gegempalan menetapkan 15 Rabiul Awal sebagai agenda Mauludan yang dipusatkan di kawasan Situs Budaya Makam Adipati Arya Kusumadinata.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar tradisi, sejarah dan nilai-nilai gotong royong masyarakat Gegempalan tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. ( Dods ).























