Opini
Oleh : Toni Taupik
Editor : Muller Munthe
Saya selaku orang tua sekarang ini benar benar khawatir, dimana anak sekarang lebih patuh pada handphone dari pada orang tuanya, ini bukan soal kemajuan tekhnologi tapi soal masa depan generasi jika dibiarkan, anak anak akan tumbuh tanpa kendali dan tanpa perlindungan.
Keresahan ini bukan persoalan individual melainkan cermin kegagalan pengawasan kolektif antara sekolah, orang tua dan Negara, menurutku banyak sekolah yang memiliki aturan larangan penggunaan handphone namun lemah dalam penerapan dan pengawasan di lapangan.
Aturan memang ada tapi susah untuk di tegakkan ini menjadi kebingungan dan dilema bagi orang tua, sementara ketika orang tua melarang dan membatasi penggunaan handphone ehhh pihak sekolah menyampaikan tugas dan memberi tugas menggunakan Handphone.
Fenomena ini sungguh di nilai sangat berdampak langsung menurun nya konsentrasi belajar dan meningkat nya ketergantungan, gangguan emosi, hingga krisis karakter pada anak usia sekolah. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa system pendidikan nasional belum sepenuh nya siap menghadapi tantangan era digital.
Secara regulasi , Negara telah mengatur kewajiban perlindungan anak melalui Undang undang perlindungan anak serta undang undang system pendidikan nasional yang mewajibkan sekolah dan orang tua menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat dan berkarakter, namun dalam praktiknya lemah pengawasan di nilai membuang ruang terjadinya pembiaran sistematik.
Kritik ini bukan penolakan terhadap teknologi melainkan peringatan keras agar Negara hadir dan lebih tegas, orangtua tidak anti teknologi tapi tidak mau anak anak Indonesia tumbuh canggih secara digital tapi rapuh secara mental dan karakter, ini merupakan alarm nasional bukan keluhan pribadi.
Diharapkan menjadi sinyal kuat bahwa penggunaan handphone di lingkungan sekolah perlu di tata ulang secara serius dengan kebijakan yang tegas , pengawasan konsisten dan sinergi yang nyata antara sekolah orang tua dan pemerintah.























