Beranda Regional Priangan Timur Asah Kemampuan Jurnalistik, Siswa SMA Islam Tarbiyatul Ummah Belajar Langsung dari Praktisi...

Asah Kemampuan Jurnalistik, Siswa SMA Islam Tarbiyatul Ummah Belajar Langsung dari Praktisi Media

39

Tasikmalaya, Mediasakti.id ,-

Dunia jurnalistik kini tak lagi hanya menjadi ruang bagi para pekerja media. Perkembangan teknologi dan media digital justru membuka peluang besar bagi generasi muda untuk belajar mencari fakta, mengolah informasi, sekaligus menyampaikan gagasan secara kreatif dan bertanggung jawab.

Hal itu yang coba dibangun SMA Islam Tarbiyatul Ummah melalui pelatihan dasar jurnalistik bersama Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Galuh Raya sekaligus jurnalis Metro TV, Yosep Trisna, Jumat (2/10/2026).

Puluhan siswa kelas X, XI dan XII mengikuti kegiatan yang digelar di Aula SMA Islam Tarbiyatul Ummah mulai pukul 13.30 WIB tersebut. Kegiatan secara khusus diikuti para siswa yang tergabung dalam Ekstrakurikuler Jurnalistik dan Multimedia.

Sejak awal kegiatan, para siswa tidak hanya disuguhi materi teori. Mereka diajak memahami bagaimana seorang jurnalis bekerja ketika berada di lapangan, mulai dari menemukan informasi yang memiliki nilai berita, menggali fakta, melakukan wawancara, menyusun berita hingga menyampaikan informasi kepada publik.

Pengalaman semakin menarik ketika siswa diberi kesempatan mempraktikkan kemampuan berbicara di depan kamera. Satu per satu siswa mencoba menjadi presenter atau reporter dalam sebuah liputan.

Suasana pun berlangsung interaktif. Keberanian siswa untuk bertanya dan tampil di depan kamera menjadi bagian penting dalam pelatihan tersebut. Dari praktik itu, siswa tidak hanya belajar jurnalistik, tetapi juga mengasah komunikasi, kepercayaan diri dan kemampuan berpikir secara cepat.

Ketua IJTI Galuh Raya, Yosep Trisna, menegaskan bahwa pengenalan jurnalistik sejak bangku sekolah penting untuk membentuk generasi yang tidak mudah menerima informasi begitu saja.

“Jurnalistik bukan hanya membuat berita. Ada proses mencari, mengolah, memeriksa dan menyampaikan informasi secara benar serta bertanggung jawab,” kata Yosep.

Menurutnya, kemampuan tersebut semakin penting di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial. Setiap orang kini dapat membuat dan menyebarkan informasi, namun tidak semuanya memahami proses verifikasi dan etika dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Karena itu, Yosep mendorong para siswa agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi mulai belajar menjadi pembuat konten yang mampu memberikan manfaat.

“Jangan hanya berani membuat konten, tetapi juga harus berani mencari fakta. Biasakan bertanya, melakukan verifikasi dan memastikan informasi sebelum disampaikan kepada orang lain,” ujarnya.

Ia juga mengajak siswa memanfaatkan teknologi digital sebagai ruang untuk mengembangkan kreativitas melalui karya jurnalistik, baik tulisan, foto, video maupun konten audiovisual.

Sementara itu, Ketua Yayasan SMA Islam Tarbiyatul Ummah, H. Otong Koswara, menyambut positif pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, ilmu yang diperoleh siswa harus mampu diterapkan dalam kegiatan sekolah sehingga Ekstrakurikuler Jurnalistik dan Multimedia tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran semata.

“Kami berharap para siswa bisa menyerap ilmu yang disampaikan oleh Ketua IJTI Galuh Raya. Ilmu jurnalistik dan televisi ini nantinya dapat diimplementasikan dalam berbagai kegiatan di lingkungan sekolah,” ungkapnya.

H. Otong juga mendorong siswa menggunakan teknologi secara lebih efektif dengan menghasilkan konten yang kreatif, edukatif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pelatihan tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi siswa SMA Islam Tarbiyatul Ummah untuk semakin aktif menghasilkan karya jurnalistik. Tidak hanya belajar menulis berita, tetapi juga membangun keberanian, kemampuan observasi, berpikir kritis, berkomunikasi dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.

Di tengah banjir informasi digital, kemampuan memilah fakta menjadi semakin penting. Melalui pembekalan langsung dari praktisi media, siswa SMA Islam Tarbiyatul Ummah didorong untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi berani bertanya, berani berkarya dan mampu menyampaikan informasi berdasarkan fakta. ( Dods ).