Beranda Regional Priangan Timur Yayasan Koesoemadiningrat Teguhkan Makna Tradisi Ngabungbang sebagai Warisan Budaya Galuh

Yayasan Koesoemadiningrat Teguhkan Makna Tradisi Ngabungbang sebagai Warisan Budaya Galuh

39

Ciamis, Mediasakti.id ,-

Yayasan Koesoemadiningrat kembali meneguhkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya Tatar Galuh melalui penyelenggaraan Tradisi Ngabungbang bertajuk “Ngamumule Warisan Kanjeng Prebu: Menggali Makna Tradisi Ngabungbang pada Masa R.A.A. Koesoemadiningrat.” Kegiatan yang digelar di Situs Jambansari, Rabu (29/7/2026) malam, menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, memperkuat identitas budaya, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai makna sesungguhnya dari tradisi tersebut.

Berlangsung bertepatan dengan malam 14 Maulud, kegiatan dimulai pukul 20.00 WIB hingga selesai. Dalam tradisi masyarakat Galuh, malam 14 Maulud merupakan waktu yang sarat makna untuk memanjatkan doa serta mengenang jasa para leluhur, khususnya R.A.A. Koesoemadiningrat atau yang lebih dikenal sebagai Kanjeng Prebu.

Ketua penyelenggara yang mewakili Yayasan Koesoemadiningrat, Raden Adi Garjita, S.Hut., menegaskan bahwa Ngabungbang tidak boleh dipahami hanya sebagai tradisi berjaga semalam. Lebih dari itu, tradisi tersebut merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat Galuh yang mengandung nilai sejarah, penghormatan kepada leluhur, serta pelajaran tentang kepemimpinan dan kebersamaan.

“Ngabungbang adalah bagian dari memori budaya masyarakat Galuh. Kami ingin mengajak masyarakat memahami makna yang terkandung di dalamnya, bukan sekadar tradisi terjaga semalaman, tetapi sebagai ruang refleksi sejarah, penghormatan kepada jasa para pendahulu, serta penguatan identitas budaya. Warisan Kanjeng Prebu bukan hanya berupa situs atau peninggalan fisik, melainkan juga nilai-nilai kepemimpinan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap masyarakat yang harus terus diwariskan kepada generasi sekarang,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan tawasul, pembacaan rajah, dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur. Suasana khidmat kemudian diperkaya dengan alunan seni kacapi suling yang menghadirkan nuansa budaya Sunda.

Sebagai acara utama, peserta mengikuti pemaparan mengenai sejarah Tradisi Ngabungbang di Jambansari yang mengulas perkembangan tradisi tersebut pada masa R.A.A. Koesoemadiningrat, sekaligus menempatkan Jambansari sebagai salah satu pusat penting sejarah Galuh. Diskusi ini menjadi ruang dialog antara sejarah, tradisi lisan, dan upaya pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.

Yayasan Koesoemadiningrat menilai Tradisi Ngabungbang merupakan warisan budaya yang masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang, malam 14 Maulud sejak dahulu menjadi momentum masyarakat berkumpul di Jambansari untuk berdoa, bersilaturahmi, dan mengenang jasa Kanjeng Prebu. Karena itu, pemahaman terhadap tradisi ini perlu terus diperkuat melalui pendekatan sejarah dan kebudayaan agar tidak kehilangan makna aslinya.

Melalui kegiatan ini, Yayasan Koesoemadiningrat berharap masyarakat semakin memahami bahwa Ngabungbang bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan media untuk menanamkan nilai penghormatan kepada leluhur, memperkuat kesadaran sejarah, melestarikan warisan budaya, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan tanggung jawab dalam menjaga identitas budaya Galuh.

Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah nyata menjadikan Situs Jambansari sebagai pusat edukasi sejarah dan kebudayaan yang terbuka bagi masyarakat, akademisi, pelajar, mahasiswa, budayawan, serta seluruh pemerhati sejarah.

Melalui semangat ngamumule warisan Kanjeng Prebu, Yayasan Koesoemadiningrat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga, merawat, dan mewariskan nilai-nilai budaya Galuh agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang. ( Dods ).