Beranda Regional Priangan Timur Chef Rocky Apresiasi Pelatihan Chef di Ciamis, Dorong Dapur MBG Wajib Profesional

Chef Rocky Apresiasi Pelatihan Chef di Ciamis, Dorong Dapur MBG Wajib Profesional

42

Ciamis, Mediasakti.id ,-

Pengelolaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh dilakukan sekadar bisa memasak. Kompetensi, standar pengolahan pangan, kebersihan, dan keamanan makanan harus menjadi perhatian utama.

Ketua Indonesia Chef Association (ICA) Rocky menegaskan, seluruh dapur MBG harus mulai serius membangun profesionalisme tenaga pengolah makanan.

Hal itu disampaikan Rocky saat mengapresiasi pelatihan peningkatan kompetensi yang diikuti 50 juru masak dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Ciamis, Kamis (13/8/2026).

Pelatihan yang digelar Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Ketenagakerjaan tersebut dinilai sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di dapur MBG.

“Bagus sekali. Pelatihan selama tujuh hari ini merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan kompetensi para juru masak,” ujar Rocky.

Menurutnya, dapur MBG memiliki tanggung jawab besar karena mengolah dan menyediakan makanan dalam jumlah banyak untuk penerima manfaat. Karena itu, tenaga yang mengelola makanan harus memiliki kemampuan dan pemahaman yang memadai.

“Juru masak tidak cukup hanya bisa memasak. Mereka harus memahami standar pengolahan pangan, kebersihan, keamanan makanan, dan kualitas makanan,” tegasnya.

Rocky juga menilai keberadaan chef profesional yang memiliki sertifikasi di setiap dapur MBG merupakan kebutuhan yang harus didorong secara serius.

“Kalau seluruh dapur MBG memiliki chef profesional yang tersertifikasi, tentu jauh lebih bagus. Ditambah Dinas Ketenagakerjaan mendukung program ini dengan pelatihan gratis. Ini luar biasa,” katanya.

Ia menegaskan, peningkatan kompetensi tidak boleh hanya dilakukan oleh satu atau dua mitra maupun yayasan. Seluruh dapur MBG harus memiliki standar yang sama.

“Jangan hanya satu atau dua mitra atau satu atau dua yayasan. Keseluruhan dapur MBG harus melek akan pentingnya pengolahan pangan,” tegas Rocky.

Menurutnya, pelatihan harus menghasilkan perubahan nyata di lapangan. Pengetahuan yang diperoleh para juru masak harus diterapkan dalam setiap proses, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, kebersihan dapur, hingga makanan siap disajikan.

“Harapannya, bukan hanya dapur MBG. Dapur-dapur lainnya juga harus semakin memahami pentingnya pengolahan pangan secara profesional,” ujarnya.

Rocky menilai profesionalisme tenaga pengolah makanan akan berpengaruh langsung terhadap kualitas makanan yang diterima masyarakat.

Karena itu, ia mendorong seluruh pengelola dapur MBG menjadikan kompetensi dan standar pengolahan pangan sebagai prioritas, bukan sekadar pelengkap.

Dengan langkah tersebut, dapur MBG di Kabupaten Ciamis diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga mampu menjamin makanan yang dihasilkan aman, higienis, berkualitas, dan memenuhi standar pengolahan pangan.
( Dods ).