Kab Ciamis, mediasakti.id,- Pencetakan buku 1000 situs yang mencatat situs – situs yang ada di Kabupaten Ciamis telah resmi di bukukan oleh Dinas Kebudayaan dan Olah Raga Kabupaten Ciamis dan dengan resmi diluncurkan beberapa waktu lalu di Cagar Budaya Situs Karangkamulyan Kecamatan Cijeungjing.
Muharam AZ Kabid Kebudayaan Disbudpora menuturkan, Alhamdulillah tim kami sudah bekerja mengungkap 1000 sebaran situs-situs yang ada di Kabupaten Ciamis dan sudah bisa kita verifikasi melalui tim para penggerak budaya.
“Melalui tim, kami para penggiat budaya di Kabupaten Ciamis sudah mendata 1000 situs, dan insya Allah akan kami informasikan melalui media elektronik melalui Galuh virtual.” Tuturnya. Rabu,29/3/2023
Selain di website Galuh Virtual, kami juga sudah mencetak bukunya dengan ketebalan ±700 halaman.
Adapun untuk penyebaran atau memperbanyak buku 1000 situs sendiri terkendala dengan anggaran yang terbatas sehingga buku belum kami publikasikan secara umum, dan buku 1000 situs ini masih menjadi milik Pemerintah Daerah.
“Kalau ada anggaran yang bisa mencukupi untuk kegiatan ini kami akan memperbanyak buku untuk masyarakat yang ingin tahu, sementara untuk saat ini belum bisa kami lakukan penyebarluasan bukunya tapi kalau data informasi bisa melalui database atau melalui website Galuh Virtual”. Terang Muharam
Masih kata Muharam, kedepannya tidak menutup kemungkinan bisa dilakukan memperbanyak buku, adapun kalau menggunakan media buku cetak di era digital ini memerlukan biaya yang cukup mahal.
“Sekarang kan eranya Peferles jadi bisa melalui e- book juga bisa kita kembangkan”. Ucapnya
Ia juga menjelaskan, untuk kedepannya kalau memang sudah terdata, situs – situs bisa kita kembangkan dan dimanfaatkan, artinya ini menjadi aset kita untuk kita lindungi dan kita kembangkan , untuk kita manfaatkan itu strategi kemajuan kebudayaan dan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, yang ini juga bisa dimanfaatkan untuk sektor verifikasi untuk kegiatan budaya budaya sendiri. Jelasnya
Selain itu juga, sebaran situs tersebut bisa dimanfaatkan untuk sarana pariwisata, tetapi pariwisata itu sendiri kalau berbasis budaya kita harus hati-hati karena dengan banyaknya wisatawan yang datang tidak menutup kemungkinan kalau kita tidak bisa menjaga dan memeliharanya situs-situs yang ada di sini juga rentan akan kerusakan.
” Karena di situs-situs ini kan banyak benda-benda cagar budaya, benda-benda yang memang kita harus lindungi”. Terang Muharam.*** Dods























