Ciamis, Mediasakti.id ,-
Senyum bangga terpancar dari wajah Chef Nur Arifin setelah berhasil mengantarkan SPPG Winduraja 1, Kecamatan Kawali, menjadi juara pertama Cooking Competition Batch 2 yang digelar di GOR Desa Panyingkiran, Kecamatan Ciamis, Sabtu (29/8/2026).
Kompetisi yang diselenggarakan Indonesian Chef Association (ICA) tersebut diikuti 11 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Bukan sekadar adu kepiawaian memasak, kompetisi ini juga menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa para chef yang bekerja di dapur SPPG memiliki kemampuan dan pengalaman profesional.
Bagi Chef Nur Arifin, kemenangan tersebut memiliki makna tersendiri. Setelah bertahun-tahun menekuni dunia kuliner dan berkarier di industri perhotelan, ia memilih kembali ke kampung halaman untuk mengabdikan keahliannya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Perasaan saya jelas sangat senang dan bangga. Saya sudah bergabung dengan MBG. Saya berkarier sejak 2009 dan pernah bekerja di salah satu hotel di Semarang,” ujar Chef Nur Arifin.
Pengalaman panjang di dunia perhotelan menjadi modal yang ia bawa ketika bergabung dalam program MBG. Namun, baginya, bekerja di dapur SPPG bukan sekadar pekerjaan.
“Saya merasa ini waktunya untuk kembali ke kampung halaman dan membanggakan kampung halaman saya. Saya juga bekerja di MBG untuk Indonesia,” katanya.
Ia menilai pengalaman dan keterampilan yang dimiliki para chef harus digunakan untuk memastikan makanan yang disajikan kepada penerima manfaat tidak hanya enak, tetapi juga aman, berkualitas, konsisten dan memenuhi kebutuhan gizi.
“Di manapun saya harus membantu Badan Gizi Nasional untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi makanan agar lebih terjaga kualitasnya dan gizinya. Tentunya kandungan gizi pun kita perhatikan,” tegasnya.
Karena itu, keberhasilan menjadi juara pertama tidak membuatnya berhenti. Justru, prestasi tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan MBG.
“Saya sangat bangga dan senang untuk MBG di Indonesia ini. Sebagai juara pertama di Cooking Competition Batch 2, saya juga merasa bersyukur sekali,” tuturnya.
Di tengah rasa syukur atas kemenangan tersebut, Chef Nur Arifin juga menyampaikan pesan penting kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Ia berharap pembinaan dan pengawasan terhadap dapur-dapur SPPG dapat dilakukan secara lebih intensif, terutama bagi dapur yang berada di wilayah pelosok.
Menurutnya, standar kualitas makanan dalam program MBG harus dirasakan secara merata. Jangan sampai kualitas pelayanan berbeda hanya karena lokasi dapur SPPG berada jauh dari pusat daerah.
“Saya berharap Badan Gizi Nasional lebih detail lagi untuk sering mengecek dapur-dapur, terutama di pelosok. Butuh perhatian lebih karena banyak dapur yang harus kita samaratakan secara kualitas,” katanya.
Baginya, pemerataan kualitas merupakan bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program MBG. Sebab, seluruh penerima manfaat berhak mendapatkan makanan dengan kualitas dan kandungan gizi yang baik.
Keberhasilan SPPG Winduraja 1 juga mendapat apresiasi dari mitranya, Linda. Ia menyebut prestasi tersebut merupakan hasil kerja bersama antara chef, ahli gizi, staf, dan para relawan.
“Luar biasa. SPPG Winduraja 1 sejak mulai running pada Februari 2025 selalu membanggakan bagi saya sebagai mitra,” ujar Linda.
Menurutnya, kekompakan dan evaluasi rutin menjadi salah satu kunci dalam menjaga kualitas dapur SPPG Winduraja 1.
Setiap periode, pihaknya melakukan evaluasi terhadap kinerja staf dan relawan. Berbagai kritik dan masukan dari pihak lain juga dijadikan bahan untuk memperbaiki pelayanan.
“Kita tiap periode selalu evaluasi antara relawan maupun staf. Jadi, setiap masukan dan kritik dari berbagai pihak kami terima dengan baik untuk evaluasi di dapur,” katanya.
Linda menegaskan, makanan yang disiapkan melalui program MBG bukan sekadar makanan untuk mengenyangkan. Di balik setiap menu terdapat tanggung jawab untuk memberikan asupan terbaik bagi penerima manfaat.
“Menu MBG itu bukan menu yang sembarangan. Kami sebagai mitra, staf maupun relawan memberikan makanan yang terbaik untuk Indonesia Emas,” pungkasnya.
Kemenangan SPPG Winduraja 1 di Cooking Competition Batch 2 pun menjadi lebih dari sekadar sebuah trofi. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa ketika chef, ahli gizi, staf, relawan dan mitra bekerja dalam satu tim, dapur SPPG mampu menghasilkan makanan yang tidak hanya memenuhi target produksi, tetapi juga mengedepankan kualitas, kreativitas dan nilai gizi. ( Dods ).























