Ciamis, Mediasakti.id ,-
Pelaksanaan Cooking Competition dalam rangka mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dimatangkan. Konsolidasi dan sosialisasi kegiatan digelar di Larissa Hotel Ciamis, Jumat (21/8/2026), dengan melibatkan Indonesia Chef Association (ICA), Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Ciamis, Satgas Pengawasan MBG, serta koordinator kecamatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ketua Pelaksana MBG Cooking Competition, Chef Rocky, yang juga pengurus ICA BPC Tasikmalaya, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk menyatukan pemahaman seluruh pihak sebelum kompetisi digelar.
Menurutnya, sosialisasi kali ini diikuti perwakilan dari tujuh kecamatan, yakni Cihaurbeuti, Panawangan, Sindangkasih, Ciamis, Sukadana, Cikoneng dan sejumlah perwakilan lainnya. Sementara secara keseluruhan, terdapat 27 kecamatan di Kabupaten Ciamis yang menjadi sasaran sosialisasi.
“Alhamdulillah hari ini kami melakukan konsolidasi dan sosialisasi kepada seluruh Korcam yang ada di Kabupaten Ciamis. Yang hadir sementara ini perwakilan dari tujuh kecamatan,” ujar Chef Rocky.
Ia menjelaskan, materi yang disampaikan meliputi rangkaian acara, teknis cooking competition, ketentuan peserta, hingga rencana kegiatan memasak dan penyediaan lebih dari 2.000 porsi makanan bagi masyarakat.
Peserta nantinya tidak hanya dituntut mampu menghasilkan masakan yang lezat, tetapi juga harus memperhatikan aspek gizi, kreativitas menu, efisiensi anggaran, serta kebersihan dapur.
“Penilaian pertama adalah menu yang variatif sesuai permintaan BGN, kandungan gizi yang sesuai, menu kreatif, dan tentunya tetap berada dalam anggaran Rp10 ribu per porsi,” katanya.
Selain itu, aspek clean as you go, yakni kebiasaan membersihkan area kerja selama dan setelah proses memasak, juga menjadi bagian penilaian. Komunikasi antara chef dan ahli gizi turut menjadi perhatian untuk memastikan makanan yang dihasilkan memenuhi standar yang ditetapkan.
Chef Rocky menyebut antusiasme peserta cukup tinggi. Bahkan, pendaftar tidak hanya berasal dari Ciamis, tetapi juga daerah lain, termasuk Banjar. Namun, pihaknya masih memprioritaskan SPPG di Kabupaten Ciamis yang saat ini mencapai 181 dapur.
“Kami terima sebanyak-banyaknya dulu. Tidak akan kami batasi, sepanjang masih sesuai dengan kemampuan pelaksanaan,” ujarnya.
Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Ciamis, Eggy Armand Ramdani, menegaskan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Cooking Competition tersebut. BGN juga mendorong seluruh SPPG untuk berpartisipasi.
Menurut Eggy, kompetisi ini bukan sekadar ajang perlombaan memasak. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa dapur SPPG memiliki tenaga juru masak profesional dan ahli gizi yang bertanggung jawab terhadap kualitas serta kandungan gizi makanan MBG.
“Kami dari BGN Ciamis mendukung penuh kegiatan ini dan menyosialisasikannya kepada para SPPG. Ini menjadi bagian untuk menunjukkan bagaimana menu yang disajikan dalam program MBG,” katanya.
Eggy berharap kegiatan tersebut mampu menjadi etalase bagi SPPG sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program MBG.
Selain kompetisi, kegiatan juga akan diisi dengan penyediaan lebih dari 2.000 porsi makanan. Menu yang disajikan direncanakan memanfaatkan potensi pangan lokal Ciamis, salah satunya ikan nila.
Dukungan juga disampaikan tim pengawasan MBG dari Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri (Kejari) Ciamis. Hari Kurniawan menilai Cooking Competition merupakan kegiatan positif yang dapat menguji profesionalitas dan kredibilitas personel di dapur-dapur SPPG.
“Di sinilah teruji profesionalitas dan kredibilitas orang-orang yang ada di SPPG. Kami berharap kegiatan ini bisa diikuti dapur-dapur, khususnya yang ada di Kabupaten Ciamis,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi konsep kegiatan yang mengangkat potensi lokal Ciamis, mulai dari ikan nila hingga produk sayuran. Menurutnya, potensi tersebut perlu dikenalkan lebih luas sehingga dapat mendongkrak citra Kabupaten Ciamis.
Namun, Kejari Ciamis memberikan catatan penting agar pelaksanaan kompetisi tidak mengganggu anggaran yang telah dialokasikan untuk pemenuhan makanan bagi masyarakat.
“Kami titip satu hal, kegiatan ini jangan sampai mengganggu anggaran dapur, khususnya anggaran yang harus disalurkan kepada masyarakat,” tegasnya.
Dengan konsolidasi tersebut, Cooking Competition MBG diharapkan tidak hanya menjadi ajang adu kreativitas memasak, tetapi juga menjadi sarana evaluasi, edukasi, promosi potensi pangan lokal, sekaligus pembuktian bahwa SPPG mampu menjalankan program MBG secara profesional, higienis, bergizi, dan tepat anggaran. Pungkas Hari.
( Dods ).























