Kota Banjar, Mediasakti.id,- Jurig Sarengseng dan Reog Dongkol adalah Seni Budaya Kota Banjar yang harus dilestarikan. Kota Banjar mempunyai banyak seni budaya yang harus terus dilestarikan, diantaranya Jurig Sarengseng dan Reog Dongkol.
Kesenian Jurig Sarengseng merupakan sajian Seni Helaran atau kirab atau carnival. Keunikan dari sajian seni Jurig Sarengseng terletak pada desain kostum yang digunakan oleh para pelaku seni dengan menggunakan limbah bambu yang tidak terpakai menjadi kostum sekaligus menimbulkan bunyi ketika kostum itu digunakan dengan gerakan tertentu.
Bunyi tersebut berasal dari sentuhan sarenngseng atau ujung pohon bambu yang paling kecil. Kurniawan anak dari almarhum Tarsono juga Kaur Umum di Desa Binangun menjelaskan, bahwa kesenian Jurig Sarengseng di gagas oleh Bapak Tarsono pada awal Tahun 2017.
Kesenian Jurig Sarengseng seni budaya yang lahir di Desa Binangun Kecamatan Pataruman Kota Banjar. Filosofi kesenian Jurig Sarengseng sendiri memiliki arti dan makna yang mendalam bagi kehidupan manusia yang inti nya manusia harus bisa menjaga alam dan jangan merusaknya, terutama pohon bambu yang mempunyai banyak manfaatnya.
Rumpun pohon bambu sanggup untuk menangkal hembusan angin yang besar dan juga dapat menahan terjadinya longsor serta dapat menyimpan sumber mata air yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Kesenian Jurig Sarengseng merupakan salah satu kesenian khas Kota Banjar yang harus terus dijaga dan dilestarikan menjadi suguhan yang berkesan bagi semua masyarakat.
Kurniawan berharap kesenian sarengseng ini mendapatkan perhatian lebih dari Pemerintah Kota Banjar, sehingga dapat dikenal luas baik di Kota Banjar bahkan bisa sampai ke mancanegara.
Kesenian Jurig Sarengseng yang sudah mendapatkan Hak Atas Kekayaan Intelektual ( HAKI ) ini selalu tampil di beberapa event di antaranya pada Hari Jadi Kota Banjar, kemudian pernah mendapatkan Juara 3 pada Asia Afrika Carnival yang diselenggarakan di Bandung, dan juga pada Kirab Budaya pada acara Ulang Tahun Provinsi Jawa Barat di halaman Gedung Sate Bandung.
Reog Dongkol adalah bentuk sajian seni yang lahir dan berkembang di dusun Cigadung Desa Karyamukti Kecamatan Pataruman Kota Banjar. Kesenian ini menggambarkan proses ritual penyadapan pohon nira yang selalu dilakukan oleh para sesepuh pada jaman dahulu.
Dan masih dilakukan oleh sebagian masyarakat yang masih melakukan adat istiadat leluhurnya. Kesenian Reog Dongkol merupakan sajian seni Pertunjukan yang dilakukan oleh 5 Orang terdiri dari 4 Orang Penabuh Lodong dan 1 Orang Penabuh Kohkol.
Seiring dengan perkembangan dan kebutuhan pertunjukan maka kesenian Reog Dongkol ini di tambah pemainnya dengan Kendang, Goong dan Tarompet pencak agar lebih semarak dan dinamis.
Kesenian Reog Dongkol telah di akui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tingkat Nasional pada tahun 2018 dan menjadi seni Khas Kota Banjar yang patut kita lestarikan dan kita kembangkan sehingga menjadi ikon kota Banjar.
Reog Dongkol pernah tampil di beberapa event seperti pentas Seni Karuhun di Taman Budaya Bandung pada tahun 2008, pentas penelitian langsung oleh team verifikasi dari DISPARBUD Provinsi Jawa Barat dan pentas dalam rangka Ulang Tahun Kabupaten Garut pada tahun 2005 juga tentunya secara rutin di pentaskan dalam rangka Hari Jadi Kota Banjar.
Kepala Bidang Pendidikan Dan Kebudayaan Kota Banjar Dr.Neni Susiyani, S.Pd, M.Pd saat di temui di ruang kerja menuturkan kesenian Jurig Sarengseng dan Reog Dongkol ini harus terus kita kembangkan dan lestarikan agar anak cucu kita nanti dapat terus mengenal seni budaya Kota Banjar, apalagi kesenian jurig sarengseng ini sudah mendapatjkan HAKI dan Reog Dongkol telah di akui sebagai Warisan Budaya Tak Benda ( WBTB ) tingkat Nasional.
“Mari kita lestarikan khasanah budaya kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai yang sangat luhur dalam tatanan sosial budaya guna keberlangsungan anak cucu di masa yang akan datang,” Pungkas Kepala Bidang Pendidikan Dan Kebudayaan.
Edi Sutisna / Korwil Priatim.























