Ciamis , Mediasakti.id ,-
Ratusan warga Desa Gegempalan, Kecamatan Cikoneng, memadati area Makam Keramat Majaganda, Dusun Majaganda, Deea Gegempalan Kecamatan Cikoneng, pada Kamis (2/10/2025). Mereka hadir untuk mengikuti kegiatan sedekah pasarean, tradisi tahunan yang rutin digelar Pemerintah Desa Gegempalan sebagai wujud pelestarian budaya leluhur.
Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Desa Gegempalan beserta perangkat desa, Camat Cikoneng, Kapolsek Cikoneng bersama Bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, santri, siswa-siswi MTs Al-Munawar, serta ratusan warga yang dengan khidmat mengikuti prosesi.
Kepala Desa Gegempalan, Wawan Munawar, menjelaskan bahwa sedekah pasarean merupakan bagian dari warisan leluhur yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan. “Alhamdulillah, sedekah pasarean ini adalah budaya turun-temurun dari para pemangku kebijakan, baik dari kalangan pemerintahan maupun ulama. Intinya, ini adalah warisan leluhur dari tokoh agama dan tokoh masyarakat yang harus kita jaga bersama,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wawan juga menyampaikan bahwa di Makam Keramat Majaganda terdapat pusara tokoh penting dalam sejarah Kabupaten Ciamis, yakni Bupati Ciamis ke-5 dan ke-6, yaitu Kanjeng Adipati Arya Kusuma Dinata dan Raden Kasep. Hal ini semakin menegaskan bahwa kegiatan sedekah pasarean bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari penghormatan terhadap sejarah dan jasa para pendahulu.
“Harapan kami, budaya ini harus senantiasa dilestarikan. Di dalamnya ada syiar agama, yaitu bersedekah di wilayah Desa Gegempalan yang dibungkus dalam konsep penghormatan kepada leluhur. Inilah nilai luhur yang perlu terus kita wariskan,” tambahnya.
Ia menekankan, keikutsertaan para pelajar dalam kegiatan ini merupakan bentuk edukasi agar generasi muda mengenal dan mencintai budaya daerah. “Kami ingin anak-anak tahu bahwa kita memiliki budaya luhur yang sangat luar biasa. Ini harus kita pertahankan sampai kapan pun,” katanya.
Menurut Wawan, tradisi sedekah pasarean bukan hanya ritual tahunan, melainkan sarana memperkuat silaturahmi, menanamkan nilai kebersamaan, serta menyerap hikmah dari ajaran para leluhur. “Ini kebiasaan yang sangat luar biasa. Kita harus maksimalkan, kita lestarikan, dan kita jadikan sebagai bagian dari identitas masyarakat Gegempalan,” pungkasnya. ( Dods ).























